<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Nhuda's Weblog</title>
	<atom:link href="http://nhudaeffendi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nhudaeffendi.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 28 Dec 2007 12:20:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='nhudaeffendi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Nhuda's Weblog</title>
		<link>http://nhudaeffendi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://nhudaeffendi.wordpress.com/osd.xml" title="Nhuda&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://nhudaeffendi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tak Sekadar Kucing Piaraan</title>
		<link>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/tak-sekadar-kucing-piaraan/</link>
		<comments>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/tak-sekadar-kucing-piaraan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Dec 2007 07:48:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nhuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[hoby]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/tak-sekadar-kucing-piaraan/</guid>
		<description><![CDATA[ADIA Pittaka Widya Ayuwreda (24), biasa dipanggil Chacha, sangat menyukai kucing sejak masih kecil. Tak disangka, suatu saat, ia mendapatkan kucing persia yang sangat cantik. Tak hanya Chacha saja yang menyukai kucing tersebut, tapi semua keluarga pun akhirnya menyukai si kucing.Lantas Chacha pun sering main ke tempat-tempat pameran cat lover, dari situlah ia mendapat informasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nhudaeffendi.wordpress.com&amp;blog=2373032&amp;post=31&amp;subd=nhudaeffendi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">ADIA Pittaka Widya Ayuwreda (24), biasa dipanggil Chacha, sangat menyukai kucing sejak masih kecil. Tak disangka, suatu saat, ia mendapatkan kucing persia yang sangat cantik. Tak hanya Chacha saja yang menyukai kucing tersebut, tapi semua keluarga pun akhirnya menyukai si kucing.</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Lantas Chacha pun sering main ke tempat-tempat pameran cat lover, dari situlah ia mendapat informasi bahwa sering ada pameran maupun kontes untuk binatang kesayangan, khususnya kucing.</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Coco, kucing persianya, lantas diikutkan untuk mengikuti berbagai kontes. Dari sinilah awalnya Chacha bersinggungan dengan banyak hal. Bahwa kucing, bukan sekedar hewan peliharaan, melainkan ada sesuatu yang lebih yang bisa dimaksimalkan. Selain harus merawatnya dengan kasih sayang, cat food pun tak sembarangan.</span></font></span></p>
<p><span><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Chacha mengaku menghabiskan sekitar satu jutaan untuk ongkos makan kucing-kucingnya. Sejumlah delapan belas kucing persia yang sekarang dimilikinya, menun-jukkan betapa gadis yang juga sekretaris II ICA (Indonesian Cat Association) Korda Yogyakarta  ini sungguh-sungguh penyayang kucing.</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Memang, si meong milik Chacha sering diikutkan cat show, tapi masih sebatas wilayah Joglosemar. Meski begitu, Aurel, nama kucing persia miliknya, pernah menjuarai kontes di Semarang sebagai best nuter. Juga masih pada tahun yang sama, 2007, di Solo dalam kontes berkelas internasional, kucing miliknya berhasil menyabet gelar second best newer. Tentu saja tak sia-sia Chacha merawat dengan ongkos yang  tak kecil.</span></font></span></p>
<p><span><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Sekarang di rumah Chacha menyibukkan diri dengan mengurus kucing-kucingnya. Garasi rumahnya pun sekarang disulap men-jadi showroom bagi peminat kucing persia. Descola Cat Lover, begitu ia menamakan unit usaha pembiakan kucing persianya. </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Ini pun tak sengaja Chacha mengawalinya. Dari seorang teman untuk mencarikan kucing persia seperti kepunyaannya, akhirnya ia membeli dengan indukan yang jelas asal muasalnya. Dengan begitu bisa diketahui, apakah ia memang berasal dari bibit yang baik atau tidak. </span></font></span></p>
<p><span><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">“Semuanya harus bersertifikat, pula ada surat kesehatannya,” katanya meyakinkan. </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">“Seperti Aurel,” ujar Chacha, “ada yang nawar 10 juta. Tapi nggak dikasih.” Aurel adalah kucing miliknya yang sering menjuarai kontes. </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Biasanya, harga anakan kucing persia bisa mencapai jutaan rupiah. Ini pun tergantung dari bibitnya pula. “Tapi. pada umumnya, harga anakan yang berumur sekitar 3 bulan bisa mencapai 1,5-2 juta rupiah,” kata Chacha, yang kemarin telah menjual beberapa anakan persia.</span></font></span></p>
<p><span><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Menurutnya tak semua yang beli akan diberikan. “Saya harus tahu dulu, apakah dia betul-betul sayang kucing atau nggak?” katanya, “kalau nggak sayang kan kasihan nggak ada yang ngurus,” ucapnya. Makanya, ia sangat hati-hati menjual anakan kucingnya.</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Seperti layaknya seorang ratu, kucing punsangat membutuhkan  perawatan yang cukup maksimal dan relatif mahal. Tak hanya dibersihkan dari kotoran atau debu. Lebih dari itu. Ia harus mempunyai kamar, atau ruang tersendiri yang cukup bersih dan nyaman. Jika itu tak diperhatikan, jangan kecewa kalau kucing bisa stres, atau malah sakitnya bertambah. </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Selain jika membelinya harus mempunyai asal usul yang jelas, bersertifikat dan ada surat keterangan sehat, juga telah diberi vaksin.</span></font></span></p>
<p><span><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Namun, jika Anda memang penyayang binatang, terutama kucing jenis persia ini, maka tak sulit untuk memulai memberi perawatan yang spesial bagi kucing kesayangan tersebut. </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Kucing jenis ini memang harus dimanja. Bagaimana tidak, dia harus diberi udara yang cukup dinginnya dan nyaman. Soalnya ia gampang terkena flu maupun pilek. Sering-seringlah menyisir bulu-bulu halusnya, sebab kalau tidak malah akan membuat bulu si kucing jadi gimbal, tidak teratur dan mudah rontok. Lantas jangan lupa sering mengelap matanya Kemudian berilah obat cacing secara rutin dan jangan lupa pula memberinya vaksin. Atau lebih sering berkonsultasi ke dokter hewan, membuat hewan kesayangan Anda menjadi lebih baik.</span></font></span></p>
<p><span><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Memang, terkesan ribet. Tapi bagi si meong yang betul-betul Anda sayangi ini pasti Anda akan lakukan sesuatu agar tetap tampil menawan. Di setiap kota, sekarang ini, selalu ada perkumpulannya. Indonesian Cat Association, untuk asosiasi penyayang kucing persia. Minimal Anda menjadi lebih tahu bagaimana merawat dan mengurusnya. Bukan hanya itu, jika suatu saat ada perlombaan atau kontes, Anda punya kesempatan untuk mengikutinya.</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Yang perlu Anda ketahui, untuk membeli kucing ini sebaiknya di catery yang memang mempunyai lisensi dan ijin. Setidaknya, pembeli sudah pasti mengetahui bahwa kucing yang diminatinya benar-benar sehat, juga dari keturunan yang mumpuni. Memang perawatannya butuh ongkos yang cukup mahal. Tahu sendiri kan, soalnya bukan cuma ratu semalam, bahkan soal makan dan bagaimana pembuangannya. Untuk catfood saja butuh ratusan ribu perbulan. </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">“Untuk pembuangannya akan lebih baik pakai pasir seolith,” ucap Chacha. Pasir tersebut tidak menyebabkan bau pada buangan kucing, malah membuat baunya hilang dan bahkan wangi. Tapi jika memang betul-betul sayang sama kucing, apalagi jenis persia yang imut ini, tentu ongkos berapapun tak jadi soal. Maka belilah kucing yang jelas muasalnya.[]</span></font></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/nhudaeffendi.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/nhudaeffendi.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nhudaeffendi.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nhudaeffendi.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nhudaeffendi.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nhudaeffendi.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nhudaeffendi.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nhudaeffendi.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nhudaeffendi.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nhudaeffendi.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nhudaeffendi.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nhudaeffendi.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nhudaeffendi.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nhudaeffendi.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nhudaeffendi.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nhudaeffendi.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nhudaeffendi.wordpress.com&amp;blog=2373032&amp;post=31&amp;subd=nhudaeffendi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/tak-sekadar-kucing-piaraan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5b3dfa117fbe431a42f2bc16ed12bc19?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">nhuda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Melihat Chiko Menari di Antara Kaki</title>
		<link>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/melihat-chiko-menari-di-antara-kaki/</link>
		<comments>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/melihat-chiko-menari-di-antara-kaki/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Dec 2007 07:41:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nhuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[hoby]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/melihat-chiko-menari-di-antara-kaki/</guid>
		<description><![CDATA[CHIKO tampak diam dan patuh. Sepertinya, dia begitu menikmati kasih sayang yang direfleksikan dalam setiap sentuhan dan belaian pemiliknya. Bahkan, dia tidak mempedulikan tangan-tangan lain yang mencoba turut menyentuhnya. Tidak ada respon amarah meski badannya sempat digelitiki sesaat. Chiko tak bergeming. Ia hanya menari perlahan di antara kaki si empunya. Hanya saja, badan yang panjangnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nhudaeffendi.wordpress.com&amp;blog=2373032&amp;post=29&amp;subd=nhudaeffendi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Calibri','sans-serif';"><a href="http://nhudaeffendi.files.wordpress.com/2007/12/hiii-ular1-copy.jpg" title="hiii-ular1-copy.jpg"><img align="left" src="http://nhudaeffendi.files.wordpress.com/2007/12/hiii-ular1-copy.thumbnail.jpg?w=468" alt="hiii-ular1-copy.jpg" /></a></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Calibri','sans-serif';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Calibri','sans-serif';"></p>
<p style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">CHIKO tampak diam dan patuh. Sepertinya, dia begitu menikmati kasih sayang yang direfleksikan dalam setiap sentuhan dan belaian pemiliknya. Bahkan, dia tidak mempedulikan tangan-tangan lain yang mencoba turut menyentuhnya. Tidak ada respon amarah meski badannya sempat digelitiki sesaat. Chiko tak bergeming. Ia hanya menari perlahan di antara kaki si empunya. Hanya saja, badan yang panjangnya tidak kurang dari 3 meter itu sempat sedikit menggeliat. Kulitnya yang tampak bersih mengkilat menunjukkan cara hidupnya yang terawat. Ya, Chiko adalah nama ular jenis phyton. Tak terbayangkan, binatang yang biasanya dianggap liar ini tinggal di salah satu rumah sebuah kawasan elite di daerah Ring Road Utara, Yogyakarta. Dalam rumah itu pula, berjejer beberapa piala dan penghargaan hasil dari kontes-kontes reptil yang pernah diikuti Chiko.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Adalah Andyan Mahesworo A (26), si empunya Chiko, sudah menyukai reptil sedari kecil. Hanya saja, pada saat itu belum muncul niat untuk mengkoleksinya. Niat tersebut baru muncul belakangan ini, tepatnya tahun 2004. Koleksi pertamanya adalah seekor ular jenis phyton hasil tangkapannya sendiri. Dari sinilah Ian benar-benar mulai  jatuh cinta pada binatang melata. Koleksinya semakin bertambah. Terhitung, Ian telah memiliki lebih dari 20 ekor dari 5 jenis ular. Koleksinya lebih didominasi oleh jenis phyton dan <i>black</i> <i>dipong</i>. Terlebih lagi, kedua jenis ular itulah yang kerap meraih kejuaraan dalam setiap kontes reptil yang diikutinya. Pernah suatu kali, <i>black</i> <i>dipong</i> favoritnya ditawar orang hingga 2 juta lebih. Namun, bagi Ian, harga itu tetaplah ”melata” dibanding cintanya terhadap hewan melata piaraannya.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Sejauh ini, jenis ular yang dikoleksinya bukanlah jenis ular berbisa sehingga proses kepemilikannya masih dilegalkan oleh negara. Hidupnya pun tidak membahayakan manusia. Bahkan, jika diperlakukan dengan baik, ular tersebut akan patuh dan tidak akan terkesan galak. Perawatannya pun tidak terlalu ribet. Menurut Ian, dia hanya memerlukan kandang yang cukup lembab untuk tempat tinggal ular. Untuk menjaga kebersihannya, Ian biasa memandikan ular-ularnya seminggu sekali. Cara mandinya pun tidak jauh berbeda dengan manusia, lengkap dengan sabun mandi dan sedikit lotion untuk mengkilatkan kulit. Jenis makanannya pun masih relatif mudah dicari, yaitu ayam potong, marmut, dan hamster. Khusus untuk jenis phyton, lebih-lebih yang berukuran <i>giant,</i> Ian biasa memberi makan setiap 2 minggu sekali masing-masing 3 ekor ayam sekaligus. Jika per ekornya mencapai Rp. 10.000,- maka bisa dibayangkan berapa biaya yang mesti dikeluarkan Ian tiap bulannya. Padahal dia menghabiskan sekitar 50 ekor ayam per bulan. Belum lagi, biaya untuk membeli marmut. </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Untunglah, untuk harmster, Ian beternak sendiri sehingga biaya pengeluaran masih bisa dikendalikan.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Menurut Ian, reptil juga seperti manusia, bisa terkena penyakit. Pilek adalah penyakit yang paling kerap diderita. Hal ini ditandai dengan banyaknya lendir yang keluar dari hidung ular. Jika begitu, biasanya Ian akan menyuntikkan <i>tiramisin</i> atau obat-obatan yang biasa dipakai manusia, hanya saja dosisnya yang dikurangi hingga separuh. Sekali waktu, Ian juga membawanya ke dokter hewan sekiranya penyakit ular tersebut tidak kunjung sembuh. Pilek juga merupakan salah satu kendala yang dialami Ian selama memelihara ular. Kendala lainnya adalah apabila ular melancarkan aksi mogok makan. Siapapun<span style="color:#cc0000;"> </span>orang yang ingin memelihara reptil agar memahami secara jelas jenis reptil tersebut terlebih dahulu, sebelum memutuskan untuk mengkoleksinya. </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Sudah setahun ini, Ian bergabung dalam komunitas reptil. Dalam komunitas tersebut, Kinyx Jogja Reptil Community, Ian serasa menemukan tempat yang tepat untuk berkumpul dan bertukar informasi tentang reptil dan cara kehidupannya. Sehingga, tidak mengherankan jika akhirnya Ian memutuskan untuk mengkoleksi beberapa jenis reptil lainnya, selain ular. Harapan di tahun ini bagi Ian tidak lain adalah koleksi reptilnya bisa terus bertambah. Tentu saja melalui perkawinan, termasuk perkawinan silang yang sudah mulai dijalankan yaitu antara <i>dipong</i> Sumatra (<i>black dipong</i>) dengan <i>dipong</i> Kalimantan.[]</span></p>
<p></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/nhudaeffendi.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/nhudaeffendi.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nhudaeffendi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nhudaeffendi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nhudaeffendi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nhudaeffendi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nhudaeffendi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nhudaeffendi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nhudaeffendi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nhudaeffendi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nhudaeffendi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nhudaeffendi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nhudaeffendi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nhudaeffendi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nhudaeffendi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nhudaeffendi.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nhudaeffendi.wordpress.com&amp;blog=2373032&amp;post=29&amp;subd=nhudaeffendi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/melihat-chiko-menari-di-antara-kaki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5b3dfa117fbe431a42f2bc16ed12bc19?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">nhuda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nhudaeffendi.files.wordpress.com/2007/12/hiii-ular1-copy.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hiii-ular1-copy.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bugs Bunny yang Manja Sekali</title>
		<link>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/bugs-bunny-yang-manja-sekali/</link>
		<comments>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/bugs-bunny-yang-manja-sekali/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Dec 2007 07:37:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nhuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[hoby]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/bugs-bunny-yang-manja-sekali/</guid>
		<description><![CDATA[  PERNAH nonton kartun Bugs Bunny yang cerdas, lincah dan agak nakal? Ya, kelinci. Seekor kelinci yang smart dan selalu tangkas menghindari muslihat musuh-musuhnya. Tapi kelinci yang satu ini tak selincah Bugs Bunny. Bentuknya mungil, lucu, dan menggemaskan. Bulunya pun lebih lembut dan halus bila dibandingkan kelinci lokal yang biasa kita jumpai. Tampilannya terlihat bersih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nhudaeffendi.wordpress.com&amp;blog=2373032&amp;post=27&amp;subd=nhudaeffendi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Calibri','sans-serif';"><a href="http://nhudaeffendi.files.wordpress.com/2007/12/klinci-hias-copy.jpg" title="klinci-hias-copy.jpg"><img align="left" src="http://nhudaeffendi.files.wordpress.com/2007/12/klinci-hias-copy.thumbnail.jpg?w=468" alt="klinci-hias-copy.jpg" /></a> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Calibri','sans-serif';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Calibri','sans-serif';"></p>
<p style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">PERNAH nonton kartun <i>Bugs Bunny</i> yang cerdas, lincah dan agak nakal? Ya, kelinci. Seekor kelinci yang <i>smart</i> dan selalu tangkas menghindari muslihat musuh-musuhnya. Tapi kelinci yang satu ini tak selincah Bugs Bunny. Bentuknya mungil, lucu, dan menggemaskan. Bulunya pun lebih lembut dan halus bila dibandingkan kelinci lokal yang biasa kita jumpai. Tampilannya terlihat bersih dan terawat. Warna bulunya tampak lebih atraktif. Bukan hanya sekedar putih, coklat, atau hitam saja, melainkan juga perpaduan antara putih dan coklat yang lebih menyerupai karpet. Inilah barangkali yang menjadi daya tarik tersendiri bagi seekor kelinci hias. Tidak heran jika akhirnya, kelinci hias memiliki kesan eksklusif di hati sebagian penggemarnya.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Sejak tiga tahun lalu, tepatnya tahun 2004, binatang hias ini telah menjadi bagian dari keluarga Joko Hartanto (46) yang tinggal di dusun Gadingan, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman. Laki-laki ini mengaku tertarik untuk memelihara kelinci hias karena perawatannya yang sangat mudah serta tidak membutuhkan banyak ongkos. Hal yang harus diperhatikan hanyalah keadaan kandang yang harus senantiasa bersih, kering, dan tidak lembab, serta terlindung dari sinar matahari. Memberi  makan secara teratur juga salah satu tips agar kelinci tetap sehat terawat. Untuk jenis makanannya pun, Bapak yang dikarunia tiga anak ini mengaku tidak kesulitan mencarinya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">“Biasanya, saya kasih kangkung, buah pepaya, dan beberapa jenis rumput-rumputan. Daun pepaya sebenarnya juga mau. Tapi, untuk daun pepaya mentah yang masih berwarna hijau harus dijemur dulu biar kering,” tuturnya. Karena itulah, Joko berusaha mencari sendiri bahan makanan tersebut sehingga tidak membutuhkan tenaga orang lain untuk membantunya. </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">“Hanya saja, kelinci hias termasuk jenis binatang yang manja. Setiap minggunya, bulu-bulu binatang ini harus selalu disisir. Kalau <i>ndak</i> demikian, bisa dipastikan bulu-bulu itu akan terlihat kusut. Terutama untuk kelinci hias jenis angora dan bulu kapas,” tambah laki-laki ini seraya menunjuk salah satu kelinci hias yang memiliki bulu paling tebal dan panjang di antara kelinci hias lainnya. Saat sekarang ini, Joko telah memiliki 5 jenis kelinci hias. </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Selain itu, bila perawatan tidak dilakukan secara tepat, penyakit kulit akan mudah menyerang binatang bertelinga panjang ini. Jika sudah demikian, Joko biasanya akan mempersiapkan obat-obatan tradisional hasil racikannya sendiri. Antara lain belerang dan bedak <i>doris</i> yang diusapkan ke badan kelinci hias yang terkena penyakit kulit.<span style="color:#31849b;"> </span>Saat ditanya tentang besarnya ongkos untuk mengelola seluruh kelincinya, Joko tampak sedikit bingung. “Wah, berapa ya? Saya pertama kali mendapat kelinci hias ini hasil pemberian kerabat. Jadi, untuk modal awal ya tidak ada,” ujarnya berseloroh.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Hingga saat ini, laki-laki kelahiran Klaten, 12 April 1961 ini mengaku belum tertarik untuk bergabung dengan salah satu paguyuban penggemar kelinci hias. Alasannya tidak lain karena dia tak ingin terlibat persaingan tidak sehat yang kerap terjadi di antara anggota dalam paguyuban itu sendiri. Karena itu, Joko lebih memilih untuk memasarkan kelinci hiasnya melalui caranya sendiri. </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">“Untuk pemasaran sudah dijalankan melalui internet,” ungkapnya.<span style="color:#31849b;"> </span>Dalam sebulan, Joko bisa menjual sekitar 20 ekor bibit kelinci hias per bulan dengan patokan harga minimal Rp 100.000,- hingga Rp. 150.000,- per ekor untuk jenis bulu karpet dan Rp 160.000,- untuk jenis angora. Joko mengutarakan, “pembeli kebanyakan membeli bibit kelinci hias karena ingin mencoba terlebih dulu sebelum memelihara lebih lanjut.” </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">“Selain itu,” ungap Joko lebih lanjut, “pembeli biasanya tertarik dengan kelinci hias mungkin karena bentuknya yang lucu <i>kayak</i> boneka, jadi mereka penasaran datang ke sini untuk melihat sendiri kayak apa kelinci hias itu. Kalau tertarik, ya mereka beli.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">”</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Selama mengelola dan merawat kelinci hiasnya, Joko belum begitu menemui kendala yang berarti. Semua permasalahan hingga saat ini masih bisa diatasi. Meski begitu, Joko tetap berharap dia bisa mendapatkan mitra usaha yang bisa diajak kerja sama, sehingga keinginannya untuk mendirikan show room kelinci hias di bilangan jalan Kaliurang dapat segera terwujud.[]</span></p>
<p></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/nhudaeffendi.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/nhudaeffendi.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nhudaeffendi.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nhudaeffendi.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nhudaeffendi.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nhudaeffendi.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nhudaeffendi.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nhudaeffendi.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nhudaeffendi.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nhudaeffendi.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nhudaeffendi.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nhudaeffendi.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nhudaeffendi.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nhudaeffendi.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nhudaeffendi.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nhudaeffendi.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nhudaeffendi.wordpress.com&amp;blog=2373032&amp;post=27&amp;subd=nhudaeffendi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/bugs-bunny-yang-manja-sekali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5b3dfa117fbe431a42f2bc16ed12bc19?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">nhuda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nhudaeffendi.files.wordpress.com/2007/12/klinci-hias-copy.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">klinci-hias-copy.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dari Sup Hingga Tongseng Jamur</title>
		<link>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/dari-sup-hingga-tongseng-jamur/</link>
		<comments>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/dari-sup-hingga-tongseng-jamur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Dec 2007 07:24:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nhuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita usaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/dari-sup-hingga-tongseng-jamur/</guid>
		<description><![CDATA[JIKA berjalan-jalan ke Sleman, arah Magelang, sekali-kali mampirlah ke Dusun Niron, Kelurahan Pandowoharjo. Sesampai di sana, ada sebuah warung unik yang hanya menyajikan olahan jamur. Di bawah payung CV Volva Indonesia, Ratidjo HS (44) mengelola budidaya jamur sekaligus mendedikasikan pembibitan tersebut sebagai unit percontohan. Tak jarang, jika sedang ramai, banyak bus-bus wisatawan domestik yang sekaligus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nhudaeffendi.wordpress.com&amp;blog=2373032&amp;post=25&amp;subd=nhudaeffendi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Calibri"><a href="http://nhudaeffendi.files.wordpress.com/2007/12/sate-jamur-copy.jpg" title="sate-jamur-copy.jpg"></a><a href="http://nhudaeffendi.files.wordpress.com/2007/12/sate-jamur-copy.jpg" title="sate-jamur-copy.jpg"><img align="left" src="http://nhudaeffendi.files.wordpress.com/2007/12/sate-jamur-copy.thumbnail.jpg?w=468" alt="sate-jamur-copy.jpg" /></a></font><font face="Calibri"></font><font face="Calibri"></font><font face="Calibri"></p>
<p style="margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">JIKA berjalan-jalan ke Sleman, arah Magelang, sekali-kali mampirlah ke Dusun Niron, Kelurahan Pandowoharjo. Sesampai di sana, ada sebuah warung unik yang hanya menyajikan olahan jamur. Di bawah payung CV Volva Indonesia, Ratidjo HS (44) mengelola budidaya jamur sekaligus mendedikasikan pembibitan tersebut sebagai unit percontohan. Tak jarang, jika sedang ramai, banyak bus-bus wisatawan domestik yang sekaligus belajar dan ingin mengetahui bagaimana pembibitan jamur.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Warung jamur Ratidjo memang terbilang baru. Jamur yang dibudidayakannya tak hanya untuk konsumsi masyarakat sekitar, ataupun datang dari pesanan. “Setiap panen, justru untuk konsumsi dalam Yogyakarta saja masih kurang,” kata Purbo Baskoro (30) salah seorang anak Ratidjo. Purbo yang lebih banyak mengurus semua tanaman jamur dari awal hingga akhir.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Di belakang rumahnya, ada area seluas seratusan meter persegi untuk budidaya jamur. Mulai dari Jamur Kuping, Tiram, Merang serta jamur Ling Zhi yang sangat berguna sebagai bahan obat-obatan. Dalam bedeng rumah bertiang bambu, tanaman jamur dikembangbiakkan oleh Ratidjo, yang pernah bekerja di beberapa tempat pembudidayaan jamur juga. Ratidjo menggunakan serbuk gergaji sebagai media tanamnya. Serbuk yang telah diberi bibit, diatur sedemikian rupa sehingga bersusun dari bawah ke atas, yang memudahkan perawatan serta pengaturannya.</span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Sebenarnya, bagi masyarakat awam, jamur dikenal dengan cendawan. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Selama ini, banyak masyarakat yang salah menyebut jamur dengan istilah fungi, padahal sebenarnya jamur bukanlah fungi. Jamur adalah tubuh buah yang tampak di permukaan media tumbuh dari sekelompok <span style="color:black;"><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fungi" title="Fungi"><span style="color:black;">fungi</span></a> (<i><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Basidiomycota" title="Basidiomycota"><span style="color:black;">Basidiomycota</span></a></i>)</span> yang berbentuk seperti payung; terdiri dari bagian yang tegak, yang disebut batang, dan bagian yang mendatar atau membulat. Tubuh buah inilah yang disebut <i><span style="color:black;"><a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Basidium&amp;action=edit" title="Basidium"><span style="color:black;">basidium</span></a>. </span></i><span style="color:black;">Sederhananya, jamur adalah kelompok fungi.</span></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Dalam tubuh jamur terdapat berbagai macam zat yang sangat berguna bagi tubuh. Selain karena rasanya yang lezat saat dimasak, berbagai manfaat sebenarnya bisa didapat dari jamur. Bayangkan saja, kandungan protein dalam jamur mencapai 19 hingga 35 persen. Selain protein, di dalam jamur juga terdapat sembilan macam asam amino essential, vitamin B1 (<i>thiamine</i>), vitamin B2 (<i>riboflavin</i>), vitamin C, niasin, biotin, mineral (K,P,Ca, Na, Mg, dan Cu), kandungan serat 7,4 hingga 27,6 persen, dan lemak 4,2 persen (72 persen lemak tidak jenuh). Tak heran, jamur kerap diburu sebagai masakan juga sebagai bahan obat.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Budidaya tanaman jamur di rumah Ratidjo sendiri menghasilkan kurang lebih 20 kilo jamur dari setiap jenis. Ada jenis jamur kuping, tiram, merang dan juga Ling Zhi. Jenis jamur Ling Zhi bisa diolah lagi menjadi sirup jamur yang rasanya sangat enak. Agak pahit, asam juga manis.</span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Ratidjo sendiri, di samping membudidayakan jamur, juga mengembangkan pengolahan jamur paska panen menjadi beberapa macam jenis makanan. Selain keripik dan sirup jamur, Ratidjo mengelola warung makan khusus dari jamur. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Warung yang didirikan kurang lebih setahun lalu itu sekarang cukup banyak memiliki pelanggan. Kreativitas pengolahan jamur sebagai makanan tak hanya sajiannya yang menarik, namun Ratidjo yang dibantu dengan istrinya, mengolahnya ke dalam makanan yang familiar dan nyaman di lidah. Sebutlah sate jamur, tongseng, pepes maupun sup jamur yang sangat lezat.</span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Untuk pepes jamur sendiri, Ratidjo menyiapkan satu unit sepeda motor dengan boks di belakangnya yang siap diantarkan ke beberapa warung yang menjadi pelanggannya. “Sebenarnya budidaya sekaligus percontohan pengelolaan jamur,” ujar Purbo, anak lelaki Ratidjo yang dipercaya dalam pembudidayaan jamur.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Usaha warung jamur yang dikembangkan Ratidjo terbilang cukup banyak peminatnya. Sedikitnya, dalam sehari tingkat konsumsi jamur dibatasi sampai 50-an kilo. Dari beberapa masakan jamur Ratidjo, yang paling banyak disukai konsumen adalah sate dan tongseng. Dengan harga per 10 tusuknya 7000 rupiah, sate jamur selalu habis sebelum jam satu siang.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">“Awalnya memang bukan sebagai sebuah warung, “ ucap Ratidjo. Namun, katanya lebih lanjut, sebenarnya warung ini merupakan pengembangan lain sebagai <i>back up</i> dari beberapa pembudidaya lainnya yang mengambil bibit jamur dari Ratidjo. Dengan jumlah karyawan mencapai 50-an orang, Ratidjo optimis, ke depan gagasannya akan agrowisata berbasis jamur akan bisa terlaksana. Setidaknya animo masyarakat sudah terlihat dari banyaknya konsumen yang mulai membesar. “Untuk Yogyakarta sendiri, tingkat konsumsi tiga kuintal perhari saja masih kurang,” tambah Purbo menegaskan.</span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"> </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Selain berbagai olahan jamur yang siap santap, pengunjung warung bisa membeli oleh-oleh bermacam keripik jamur yang enak sebagai kudapan. Keripik yang dikemas dalam plastic 100 gram dijual seharga limaribu rupiah, maupun sirup yang menyehatkan. Enaknya makan masakan jamur, sehat menyehatkan dan kelezatannya menggetarkan lidah.[]</span></p>
<p></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/nhudaeffendi.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/nhudaeffendi.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nhudaeffendi.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nhudaeffendi.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nhudaeffendi.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nhudaeffendi.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nhudaeffendi.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nhudaeffendi.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nhudaeffendi.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nhudaeffendi.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nhudaeffendi.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nhudaeffendi.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nhudaeffendi.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nhudaeffendi.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nhudaeffendi.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nhudaeffendi.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nhudaeffendi.wordpress.com&amp;blog=2373032&amp;post=25&amp;subd=nhudaeffendi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/dari-sup-hingga-tongseng-jamur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5b3dfa117fbe431a42f2bc16ed12bc19?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">nhuda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nhudaeffendi.files.wordpress.com/2007/12/sate-jamur-copy.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sate-jamur-copy.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Warnailah Hidupmu</title>
		<link>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/warnailah-hidupmu/</link>
		<comments>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/warnailah-hidupmu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Dec 2007 07:20:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nhuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita usaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/warnailah-hidupmu/</guid>
		<description><![CDATA[  DI tahun 1999, ketika handycraft dari kertas daur ulang tengah membooming, sepasang suami-istri, yang kala itu masih berstatus sebagai pasangan kekasih, justru tertarik untuk menciptakan pernak-pernik lain yang lebih bersifat pop culture. Dengan daya kreatifitasnya, terciptalah beberapa pernak-pernik antara lain frame, album foto, dan buku. Tak dinyana, pernak-pernik yang awalnya hanya sekedar pajangan di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nhudaeffendi.wordpress.com&amp;blog=2373032&amp;post=24&amp;subd=nhudaeffendi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Calibri','sans-serif';"><a href="http://nhudaeffendi.files.wordpress.com/2007/12/rumahwarna5copy.jpg" title="rumahwarna5copy.jpg"><img align="left" src="http://nhudaeffendi.files.wordpress.com/2007/12/rumahwarna5copy.thumbnail.jpg?w=468" alt="rumahwarna5copy.jpg" /></a></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Calibri','sans-serif';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Calibri','sans-serif';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Calibri','sans-serif';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Calibri','sans-serif';"> <span style="font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"> <span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">DI tahun 1999, ketika <i>handycraft</i> dari kertas daur ulang tengah membooming, sepasang suami-istri, yang kala itu masih berstatus sebagai pasangan kekasih, justru tertarik untuk menciptakan pernak-pernik lain yang lebih bersifat <i>pop culture</i>. Dengan daya kreatifitasnya, terciptalah beberapa pernak-pernik antara lain frame, album foto, dan buku. Tak dinyana, pernak-pernik yang awalnya hanya sekedar pajangan di kamar kos-kosnya ini ternyata menarik perhatian beberapa teman, khususnya kalangan kaum hawa. Ketertarikan itu bisa saja tertuju pada keunikan permainan degradasi warna yang ceria. Barangkali pula permainan warna yang atraktif tersebut sengaja dipilih karena bisa mendeskripsikan semangat jiwa anak muda. </span></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Calibri','sans-serif';"><span style="font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Sepasang kekasih itu tak lain adalah Nanang Syaifurrozi dan Anne Yarina Christi. Dari pengalaman tersebut, muncullah ide untuk mendirikan Rumah Warna sebagai <i>brand</i> dari semua produk <i>handycraft</i> yang diciptakannya. Menurut Nanang, alas an pemilihan nama Rumah Warna lebih dikarenakan untuk membedakan dengan produk-produk lain yang saat itu sebagian besar berasal dari kertas daur ulang. Dengan modal awal sekitar Rp 50.000,- baik Nanang maupun Anne kemudian memasarkan hasil kreasinya itu di Boulevard UGM setiap minggu pagi. Namun, status mereka yang saat itu masih menyandang predikat sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM menyebabkan ruang lingkup bisnisnya sedikit terbatas.</span></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Calibri','sans-serif';"><span style="font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Hingga akhirnya, keduanya ditawari oleh seorang teman untuk turut menyemarakkan FKY (Festival Kebudayaan Yogyakarta) 2002 dengan menghadirkan beberapa koleksi pernak-perniknya. Bak gayung bersambut, di tempat itulah Nanang bertemu dengan <i>buyer</i> dari Yunani yang langsung tertarik dengan koleksi <i>handycraft</i>nya dan langsung memesan sebanyak 10.000 biji. Pada tahun yang bersamaan, Rumah Warna mulai merambah dunia ekspor ke beberapa negara, seperti Yunani, Jepang, dan Spanyol selama beberapa kali.</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Bisnis Rumah Warna terus menanjak hingga akhirnya Nanang dan Anne, yang telah berubah status menjadi istri mulai mengembangkan produknya dengan menambah koleksi. </span></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Calibri','sans-serif';"><span style="font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Rumah Warna yang awalnya hanya memproduksi <i>handycraft</i> berbahan dasar kertas kemudian semakin bertambah semarak dengan hadirnya produk-produk yang berbahan dasar kain.</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Untuk bahan baku dasar seperti kertas kado, pada mulanya Nanang dan istrinya harus <i>hunting</i> sendiri. Demikian pula untuk bahan baku kain. Namun, saat ini mereka telah memiliki motif tersendiri yang menjadi ciri khas dari produk-produk Rumah Warna. Dengan mengandalkan motif garis-garis yang lucu serta polkadot yang imut, Rumah Warna kembali hadir dengan bermacam aksesoris dan pernak-pernik baru yang lebih <i>eye-catching</i> seperti dompet, <i>handbag, </i>sarung HP, <i>scrapbook </i>(sejenis album foto yang dihiasi dengan potongan kertas bermotif dan tulisan-tulisan yang didesain dengan menarik dan <i>colorful</i>), <i>fun</i> box, dan <i>wooden</i> pin bermacam bentuk dan ukuran. Selain itu, masih ada lagi aksesoris dekorasi kamar seperti  bantal, <i>handmade bedcover </i>yang unik<i>, </i>serta<i> </i>tirai jendela. Oleh karena itu, Nanang tidak bisa menebak seberapa banyak items untuk masing-masing produk hasil kreasinya tersebut. Dengan menempati <i>show room</i> di bilangan Pandega Satya 15-A, Ring Road Utara, Yogyakarta sejak 3 tahun lalu ini, -sebelumnya di daerah Selokan Mataram, Sleman- kini Nanang mempekerjakan 65 karyawan untuk menjalankan roda bisnisnya. []</span></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/nhudaeffendi.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/nhudaeffendi.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nhudaeffendi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nhudaeffendi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nhudaeffendi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nhudaeffendi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nhudaeffendi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nhudaeffendi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nhudaeffendi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nhudaeffendi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nhudaeffendi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nhudaeffendi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nhudaeffendi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nhudaeffendi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nhudaeffendi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nhudaeffendi.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nhudaeffendi.wordpress.com&amp;blog=2373032&amp;post=24&amp;subd=nhudaeffendi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/warnailah-hidupmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5b3dfa117fbe431a42f2bc16ed12bc19?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">nhuda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nhudaeffendi.files.wordpress.com/2007/12/rumahwarna5copy.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">rumahwarna5copy.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sampah Kertas Menjelma Uang</title>
		<link>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/sampah-kertas-menjelma-uang/</link>
		<comments>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/sampah-kertas-menjelma-uang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Dec 2007 07:01:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nhuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita usaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/sampah-kertas-menjelma-uang/</guid>
		<description><![CDATA[KERTAS adalah benda ringan bak tanpa berat. Tapi jika ia bertumpuk, maka beban dan harganya mulai berbunyi. Siapa kira kertas bekas itu bisa didaur menjadi barang cantik bahkan bernilai jual tinggi? Dijadikan souvenir dan bahkan pernak-pernik yang indah dan terkesan lux. Harso Susanto (37), begitulah nama lengkap dirinya, adalah salah satu pemilik usaha kerajinan dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nhudaeffendi.wordpress.com&amp;blog=2373032&amp;post=23&amp;subd=nhudaeffendi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Calibri','sans-serif';"><a href="http://nhudaeffendi.files.wordpress.com/2007/12/warnawarna.jpg" title="warnawarna.jpg"><img align="left" src="http://nhudaeffendi.files.wordpress.com/2007/12/warnawarna.thumbnail.jpg?w=468" alt="warnawarna.jpg" /></a></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Calibri','sans-serif';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Calibri','sans-serif';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Calibri','sans-serif';"></p>
<p style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">KERTAS adalah benda ringan bak tanpa berat. Tapi jika ia bertumpuk, maka beban dan harganya mulai berbunyi. Siapa kira kertas bekas itu bisa didaur menjadi barang cantik bahkan bernilai jual tinggi? Dijadikan souvenir dan bahkan pernak-pernik yang indah dan terkesan lux. Harso Susanto (37), begitulah nama lengkap dirinya, adalah salah satu pemilik usaha kerajinan dan furniture yang khusus terbuat dari kertas daur ulang. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Merekayasa kertas apkiran bukanlah hal gampang, apalagi disulap menjadi souvenir yang indah dan mengagumkan. Mungkin hanya keahlian dan juga keuletan yang membawa Harso dikenal orang karena produknya. Dengan semangat kreatif dan cinta lingkungan, Semesta Recycling, label usaha yang didirikan Harso, mengolah sampah kertas menjadi barang-barang antik dan perabot yang lebih dari sekedar mengagumkan.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Semesta Recycling, didirikan sekitar satu tahun yang lalu. Biasanya Semesta mendapatkan stok kertas bekas dari KulonProgo. Melalui sejawat dan rekan-rekannya, Harso membangun jaringan dengan pemasok barang  tidak terpakai guna mengumpulkan kertas-kertas bekas dari penjuru kota. Dari sini kemudian kertas bekas diolah beberapa kali proses untuk menjadi produk yang layak jual.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Menurut Harso, ia memulai usaha furniture dari kertas daur ulang ini dikawasan Kolowenang, Minggir, Sleman, Yogyakarta dengan modal berkisar  10 Juta. Karena adanya renovasi tempat yang belum cukup mapan, maka Harso bersama keluargapun pindah di kawasan Sorowajan Yogyakarta dengan bisnis yang sama pula. Sebagai pencetus sekaligus pengelola tunggal dalam perusahaannya, suami  LN Harnaningrum ini selalu memutar otak agar produknya bisa laku di pasaran. Hasilnya pun tidak sia-sia. Produknya sekarang sudah bisa dinikmati dan dikenal secara domestik maupun luar negeri.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Memang, kertas hasil daur-ulang tak seputih kertas baru. Terlebih lagi jika melihat guratan serat tak beraturan. Kekusaman sebuah kertas usang nyata terlihat. Seringkali malah nampak agak redup dan terdapat binti-bintik noda yang tidak jelas. Justru keunikan tekstur inilah yang dimanfaatkan  Harso memproduksi kerajinan yang mengagumkan, seperti <i>plate bowl</i>, <i>basketry</i>, <i>box</i>, dan semacamnya. </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Cara mendaur ulang sangat sederhana. Hanya membutuhkan peralatan seperti  blender, baskom,  kain, spon meja, screen, papan dan juga alat pemberat. Awalnya, robeklah kertas menjadi serpihan kecil-kecil lantas direndam dalam air selama 1 hari. Blender digunakan untuk  menghaluskan kertas yang sudah direndam tersebut dan kemudian diletakkan ke dalam baskom yang sudah tersedia air. Kemudian diaduk hingga bercampur rata dan taruh kain serta spon di atasnya. Selanjutnya adalah saring campuran di baskom memakai screen sablon. Hati-hati, jangan sampai terlalu tebal. Lantas letakkan di atas spon yang sudah dilapisi kain dengan posisi terbalik, gosok sedikit screennya dan diangkat. Tutup dengan kain yang sudah dibasahi, tambah satu lapis lagi kain basah. Ulangi langkah terakhir, sesudah beberapa lapis, <i>press </i>dengan menaruh papan besar di atasnya dan beri pemberat seperti batako atau batu, dan biarkan selama sekitar satu jam agar airnya berkurang. </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Jika semua sudah dilakukan, pastikan sudah cukup kering sebelum diangkat. Kemudian sepasang demi sepasang diangkat dan jemur ditempat yang panas. Agar rapi dan keras, setrika sepasang demi sepasang kemudian buka kainnya pelan-pelan. Maka, kertas daur ulangpun sudah siap untuk dijadikan aneka souvenir indah yang siap untuk di tampilkan dan bersaing di pasaran.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Sebenarnya, produk andalan dari Semesta Recycling adalah meja kursi. Semuanya disajikan dengan pewarnaan yang menarik serta dibubuhi aksesoris yang sesuai dengan produk yang dibuatnya. Untuk kertas yang dibuat meja kursi sendiri bukan sembarang kertas, melainkan harus berbahan kertas koran. </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Konsumen furniture kertas daur ulang ini bervariasi. Pula penilaian atas kreativitas produk Semesta. “Orang yang membeli produk kami bervariasi, ada yang menilainya sebagai sebuah fungsi semata, tetapi ada juga yang membelinya berdasarkan art, tetapi untuk dalam negeri sendiri masih relatif ke fungsi sekaligus dengan harga yang masih bisa dijangkau,” ungkap pria kelahiran Temanggung, 20 Agustus 1970 ini. Orang dalam negeri biasanya lebih senang ke barang yang biasa dan bersifat mencolok, dan untuk masalah seni adalah nomor dua.</span></p>
<p style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Ia berharap karyawannya  yang ada sekarang agar selalu bisa bekerja dan terus bekerja serta dapat membuka lapangan kerja baru yang lebih luas. Sebab rata-rata dari karyawannya diambil dari anak jalanan. Anda bisa bayangkan, produk dari kertas bekas pun memiliki nilai guna yang tak kalah dengan bahan logam ataupun alumuniun.[]</span></p>
<p></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/nhudaeffendi.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/nhudaeffendi.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nhudaeffendi.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nhudaeffendi.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nhudaeffendi.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nhudaeffendi.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nhudaeffendi.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nhudaeffendi.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nhudaeffendi.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nhudaeffendi.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nhudaeffendi.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nhudaeffendi.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nhudaeffendi.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nhudaeffendi.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nhudaeffendi.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nhudaeffendi.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nhudaeffendi.wordpress.com&amp;blog=2373032&amp;post=23&amp;subd=nhudaeffendi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/sampah-kertas-menjelma-uang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5b3dfa117fbe431a42f2bc16ed12bc19?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">nhuda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nhudaeffendi.files.wordpress.com/2007/12/warnawarna.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">warnawarna.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membangun Usaha dari Nol Rupiah</title>
		<link>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/membangun-usaha-dari-nol-rupiah/</link>
		<comments>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/membangun-usaha-dari-nol-rupiah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Dec 2007 06:12:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nhuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[mereka yang merubah nasibnya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/membangun-usaha-dari-nol-rupiah/</guid>
		<description><![CDATA[NAMANYA Sugiran (41). Lelaki paruh baya ini sederhana, tidak menunjukkan bahwa ia seorang pengusaha yang sukses untuk jenis pengolahan kertas menjadi sebuah tas. Bahasa kerennya disebut Sugiran sebagai usaha paperbag. Saat pertamakali hendak ke tempatnya, di kawasan jalan Monjali, Ngemplak, saya urung datang. Soalnya bapak dua anak ini sedang asyik main bola. “Besok saja, ya. Saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nhudaeffendi.wordpress.com&amp;blog=2373032&amp;post=21&amp;subd=nhudaeffendi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><font face="Calibri"><a href="http://nhudaeffendi.files.wordpress.com/2007/12/narigus2copy.jpg" title="narigus2copy.jpg"><img align="left" src="http://nhudaeffendi.files.wordpress.com/2007/12/narigus2copy.thumbnail.jpg?w=468" alt="narigus2copy.jpg" /></a></font></span><span><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">NAMANYA Sugiran (41). Lelaki paruh baya ini sederhana, tidak menunjukkan bahwa ia seorang pengusaha yang sukses untuk jenis pengolahan kertas menjadi sebuah tas. Bahasa kerennya disebut Sugiran sebagai usaha paperbag. Saat pertamakali hendak ke tempatnya, di kawasan jalan Monjali, Ngemplak, saya urung datang. Soalnya bapak dua anak ini sedang asyik main bola. “Besok saja, ya. Saya sore ini sedang main bola,” begitu suara Sugiran di seberang sana menjawab.</span></font></span></p>
<p><span><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Suatu siang, kami ke sana lagi. Ia begitu sibuk dengan kertas dan lem di tangan. Belepotan. Sedikit gugup ia menjawab beberapa pertanyaan yang kami ajukan. Bahkan saking gugupnya, lem kertas yang dituangkan dalam botol sampai tumpah. “Maaf, Mas. Saya jadi gugup,” ujarnya polos. Begitulah Sugiran. Seseorang yang telah sukses, namun masih menyimpan kepolosan dan kesederhanaan. Oleh orang-orang, dan barangkali sedikit koleganya, ia biasa dipanggil Narigus. Tapi bukan lantaran ini nama usahanya dilabeli “narigus”. Mungkin, katanya pelan, biar mudah diiingat saja.</span></font></span><span><font face="Calibri"> </font></span><span><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Awalnya Sugiran hanya nekat mencoba membuat tas dari kertas, memenuhi permintaan sebuah perusahaan kaos oblong. “Dua hari saya nggak bisa tidur,” ujarnya. Sebab Sugiran sendiri belum tahu cara yang tepat membuat paperbag. Lantas dari hanya coba-coba, ia pun membuat sampelnya. Masih saja keliru. Hingga beberapa hari ia terus membuat sampel. Sampai akhirnya Sugiran menemukan aspek yang mampu memberi kekuatan pada paperbag bikinannya. Rapi dan tak mudah sobek. “Tas kertas buatan kami harus rapi. Kalau tidak, saya harus membuatnya lagi agar rapi dan kuat,” jelasnya. “Kuncinya ada di bagian bawah dan samping atas untuk pegangan tali,” tambahnya.</span></font></span><span><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Pada tahun 1989, Sugiran belumlah menjadi apa-apa. Ia hanya seorang penjaga toko. Berbekal sepeda onthel, lelaki asal Wonosari ini tekun mencari order untuk menafkahi keluarganya. Sepulang dari menjaga toko, tak jarang ia pergi ke tempat teman-temannya berkumpul dan belajar perihal sesuatu yang belum ia ketahui. Secara tak sengaja Sugiran mengiyakan saja saat seseorang menawarinya membuat tas dari kertas. Inilah awal ia mulai menggeluti pembuatan paperbag. Tak cuma itu, apapun ia kerjakan sebagai penghasilan tambahan. “Membuat amplop pun saya terima,” ucapnya mengenang.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Bertekunlah Sugiran dengan kertas-kertas sebagai bahan dasar paperbag. Ia pun mulai hapal betul, kertas apa saja yang hasilnya menjadi bagus. Hasil pertamanya waktu itu ia belikan peralatan sablon. Aktivitas ini pun mengharuskan Sugiran lebih banyak belajar sablon. Bisa ditebak, banyak kesalahan yang dilakukannya. Mulai dari tebal tipisnya cat yang kurang bahkan kerusakan kain screen. Namun dari sinilah Sugiran berhasil melampauinya. Sedikit demi sedikit, Sugiran berhasil memperoleh hasil maksimal dari kerja kerasnya. Paperbagnya terkenal kuat dengan hasil sablon yang cukup bagus. Bahkan beberapa perusahaan kaos oblong ternama seperti Dagadu, Jaran, Dadung hingga C-59 dari Bandung memesan paperbag dari Sugiran. Tiap bulan ia harus mengirim sejumlah orderan ke perusahaan tersebut. Perlahan kehidupannya berubah. Ia tak lagi berpindah-pindah kontrakan.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Pada tahun 1996 Sugiran membeli rumah di kawasan Jalan Monjali, yang sekarang menjadi tempat usahanya. Dengan dibantu 8 karyawan yang kebanyakan dari tetangga kanan kiri rumahnya, Sugiran meneguhkan diri untuk menyelesaikan setiap order yang masuk. Produksinya pun semakin banyak, bahkan bisa dibilang terkadang Sugiran kewalahan menerima order. Itu pun dengan tingkat produktivitas mencapai kapasitas 1000 paperbag per hari.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Suatu saat, melalui seorang guide, Sugiran mendapat order dari seorang turis. Pesanan yang berkapasitas 5000 paperbag harus ia selesaikan dalam waktu yang cepat. Untunglah, ia bisa menyelesaikan pesanan sesuai tenggat waktu yang diberikan. Tak hanya sampai di situ, pesanan pun mulai mengalir hingga keluar negeri. Perancis, Kanada dan Australia. Tak kurang dari 50.000 lembar harus ia kirim per tiga bulannya sampai sekarang.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">“Saya memang sangat hati-hati dalam membuat paperbag,” ungkapnya. Lantaran inilah ia tak begitu saja memberikan order pada orang lain untuk pembuatan paperbag. Sebab ia pernah mengalami peristiwa yang cukup buruk. Baginya, apapun lebih baik ia kerjakan sendiri. Pelemparan job akan memberi dampak buruk cukup serius jika kualitas hasil produksi tidak sama. “Sebab saya memberi jaminan, kalau jelek boleh dikembalikan dan akan kami perbaiki,” kata Sugiran optimis barang produksinya akan selalu baik kualitasnya.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Order yang mengalir kencang tak membuat Sugiran lupa asalnya. Ia masih saja polos, ramah dan terkadang suka membuat guyonan segar. Tapi tak begitu halnya saat ia memulai transaksi berkaitan dengan usaha paperbagnya. “Saya orangnya harus jelas dulu, ada uang ada barang,” ungkapnya. Soalnya, kata Sugiran, ia sendiri pernah tak jadi mengirim barang beberapa kali, akibat pesanan yang sudah jadi tapi tak terbayarkan. Pengalaman inilah yang menjadikannya sedikit penuh waspada saat ada orderan datang. “Mungkin kalau dia sudah lama jadi konsumen, barulah kepercayaan semakin tumbuh, mungkin akan berbeda saya memperlakukan,” ungkapnya pasti.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Dari hasil usahanya tersebut, tampak di teras rumah Sugiran sebuah mobil terparkir dan motor untuk transportasi anaknya. Ia pun bersyukur dari upayanya telah memberikan kehidupan yang lebih baik dari apa yang dulu dijalaninya. </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Sugiran sendiri mengatakan bahwa usahanya ini belum pernah promosi. Satu-satunya cara untuk berpromosi adalah dengan melekatkan nomor telepon di balik paperbag hasil bikinannya. Dengan demikian, kata Sugiran, orang malah lebih mudah untuk mengenali siapa pembuat paperbag tersebut. Pernah suatu kali, kata Sugiran, ia berpromosi. Hasilnya, ia sangat kewalahan dengan order yang masuk. Bahkan, ungkapnya lebih lanjut, ia malah menolak beberapa order. “Nantinya malah takut mengecewakan konsumen,” jelasnya.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Tak jarang Sugiran sendiri yang pergi ke luar kota mengantar paperbag yang telah jadi ke konsumennya. Ke Bandung, Wonosobo atau Semarang. Kalau di dalam kota, seperti Yogyakarta, tentu saja sudah tak terbilang lagi. Selain rutin mengerjakan pesanan dari beberapa produsen kaos oblong, Sugiran menerima orderan paperbag atau tempat mug sebagai souvenir pernikahan, atau seminar-seminar yang sering diadakan orang-orang pebisnis.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Hanya saja, menurut Sugiran, ia tak pernah risau dengan model manajemen pengelolaan usahanya. Awalnya asal cukup untuk kebutuhan keluarga dan diputarkan kembali sebagai modal, hal itu sudah cukup baginya.</span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Suatu sore di rumahnya, beberapa ibu-ibu tengah asyik melipat kertas dan menempatkan kertas yang lebih tebal lagi ke dalam lipatan paperbag. Urutannya, usai sablonan mengering, kertas persegi panjang yang memiliki garis bantu lipat kemudian dilipat sesuai garisnya. “Lipatan harus siku,” kata Sugiran menjelaskan. Kalau tidak siku, jelasnya lagi, akan cepat lecek dan tidak ada kekuatan pada paperbag tersebut. Usai dilipat barulah direkatkan memakai lem kertas adonan sendiri. Perlakuan penempelan kertas ini pun harus serapi mungkin. Sebab, jika tidak demikian, kertas akan terlihat melenceng dar igaris lipatan semula.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Tumpukan paperbag yang tinggal diberi tali pegangan itu menggunung menempel ke tiap dinding rumah Sugiran. “Pandangan yang biasa,” ucapnya pelan. Di sini segala kertas berarti kreativitas yang harus bisa diubah hingga berbunyi uang. Saking hapalnya dengan kertas yang baik maupun yang berkualitas, Sugiran memberi nama anak keduanya dengan Kiki. Sekarang anak itu baru kelas dua sekolah menengah pertama di Yogyakarta. “Dari nama sebuah buku yang bagus,” ungkapnya dengan tersenyum. </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Kebersahajaan Sugiran adalah satu dari sekian banyak orang-orang sukses yang masih menyisakan keberasalannya. </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"> </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Tak Cuma dalam bersikap, dalam perilaku keseharian ia juga polos dan apa adanya. “Orang asalnya juga dari WNA kok,” katanya lugas. Lho kok bisa? Wonosari asli, kata Sugiran sembari ketawa ngakak. Sore itu kami berpamitan kepada Sugiran. Tak lebih dari 100 meter dari rumah Sugiran, tampak ruas jalan Monjali yang ramai. Suasana di badan jalan itu sudah terlalu ramai dengan orang yang hendak berbuka puasa.[]</span></p>
<p></font></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/nhudaeffendi.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/nhudaeffendi.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nhudaeffendi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nhudaeffendi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nhudaeffendi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nhudaeffendi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nhudaeffendi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nhudaeffendi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nhudaeffendi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nhudaeffendi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nhudaeffendi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nhudaeffendi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nhudaeffendi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nhudaeffendi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nhudaeffendi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nhudaeffendi.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nhudaeffendi.wordpress.com&amp;blog=2373032&amp;post=21&amp;subd=nhudaeffendi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/membangun-usaha-dari-nol-rupiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5b3dfa117fbe431a42f2bc16ed12bc19?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">nhuda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nhudaeffendi.files.wordpress.com/2007/12/narigus2copy.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">narigus2copy.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ubah Pola Pikirmu, Jangan Cemaskan Puzzle yang Belum Lengkap</title>
		<link>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/ubah-pola-pikirmu-jangan-cemaskan-puzzle-yang-belum-lengkap/</link>
		<comments>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/ubah-pola-pikirmu-jangan-cemaskan-puzzle-yang-belum-lengkap/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Dec 2007 06:08:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nhuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku/film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/ubah-pola-pikirmu-jangan-cemaskan-puzzle-yang-belum-lengkap/</guid>
		<description><![CDATA[INI memang buku yang menarik paska buku-buku tulisan John Naisbitt sebelumnya. Megatrends menjadi best seller sebab merangkum banyak hal peristiwa serta kecenderungan apa yang akan menraik banyak minat di masa yang akan datang. Sekarang Naisbitt hadir kembali dengan perluasan pemikirannya yang jernih. Kemampuan jelajah analisisnya mustahil diragukan.Ada sebelas pola pikir yang menurut Naisbitt harus dirombak. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nhudaeffendi.wordpress.com&amp;blog=2373032&amp;post=20&amp;subd=nhudaeffendi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"><a href="http://nhudaeffendi.files.wordpress.com/2007/12/buku-naisbit.jpg" title="buku-naisbit.jpg"><img align="left" src="http://nhudaeffendi.files.wordpress.com/2007/12/buku-naisbit.thumbnail.jpg?w=468" alt="buku-naisbit.jpg" /></a>INI memang buku yang menarik paska buku-buku tulisan John Naisbitt sebelumnya. Megatrends menjadi <i>best seller</i> sebab merangkum banyak hal peristiwa serta kecenderungan apa yang akan menraik banyak minat di masa yang akan datang. Sekarang Naisbitt hadir kembali dengan perluasan pemikirannya yang jernih. Kemampuan jelajah analisisnya mustahil diragukan.</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Ada sebelas pola pikir yang menurut Naisbitt harus dirombak. Apalagi melihat realitas usaha yang akhir-akhir ini sering terjadi. Tapi justru di situlah letak sebuah permasalahan. </span></font></p>
<p><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Menurut Naisbitt, kita sering dikekang oleh cara dan konstruk berpikir kita sendiri. Sehingga tanpa sadar kita memberikan benteng yang kukuh yang menghalangi pandangan kita sendiri. Sehingga, kata Naisbitt, kita terjebak pada kata perubahan yang omong kosong. Sebab kita sendiri tidak secara jernih membedakan perubahan nyata dengan kemungkinan perubahan. Sebuah pergeseran mendasar dari kecenderungan sesaat. “Dalam sejarah dunia, kebanyakan hal tidaklah berubah,” tulis Naisbitt.</span></font></p>
<p><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Sinyal-sinyal yang dituliskan Naisbitt seakan melengkapi kegamangan kita akan sebuah masa depan. Namun di sini secara apik Naisbit memberikan gambaran yang menyeluruh bahwa sebenarnya yang paling banyak berperan untuk mengkalkulasi dan melengkapi sebuah potret kehidupan adalah diri kita sendiri.</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Dikisahkan oleh Naisbitt, bahwa sebenarnya hal-hal yang diperkirakan akan terjadi selalu terjadi lebih lambat. Sejak ditemukannya pisau cukur pada 1901 perlu 70 tahun diluncurkannya pisau cukur bermata dua yang lebih aman, inovatif dan mengagumkan pada tahun 1970-an. Artinya perubahan tidaklah bergerak dengan sendirinya, melainkan berkaitan antara satu dengan lainnya yang kesemuanya jika dirangkai merupakan sebuah kesiapan yang sudah seharusnya.</span></font></p>
<p><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Puzzle yang masih acak dan belum mempunyai garis pasti itu sebenarnya peluang yang menjadikan kita, manusia dengan segala akal budinya, harus mampu memanfaatkan peluang. Periode 70 tahun sejak ditemukannya pisau cukur adalah masa perubahan. Dan masa perubahan adalah ribuan lubang masa peluang. Pada titik inilah Naisbitt mengajak kita untuk merenungi bahwa kita sebenarnya pencari peluang, bukan pemecah masalah. Saat hubungan antarmanusia dan antar berbagai hal berubah, maka perubahan itu menciptakan kebutuhan baru dan keinginan baru yang lantas menawarkan kemungkinan-kemungkinan baru.</span></font></p>
<p><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Bagaimana mencari dan menemukan peluang? Dituliskan oleh Naisbitt, bahwa Einstein pernah melakukan hal yang dianggap gila oleh orang-orang di sekitarnya. Namun Einstein memilih buah yang matang dan mencari hubungan di antara buah-buah itu. Begitu hubungan-hubungan buah itu diperoleh, mereka sebenarnya seringkali terlihat cukup sederhana. Jadi bukan hanya melihat pada jatuhnya buah apel itu ke tanah. Artinya, diri kita mempunyai peran yang sangat besar dalam melengkapi titik-titik mozaik yang sebenarnya belum terhubung. Jadikan diri kita sebagai orang yang pandai mengekploitasi peluang, bukan pemecah masalah. Sebab hasil tidak diperoleh dengan memecahkan masalah.</span></font></p>
<p><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Pengalaman menyebutkan bahwa perubahan datang semakin nyata di saat ada pengaruh nilai-nilai perubahan dan keharusan ekonomi. Di sini, kondisi yang akan menciptakan sebuah perekonomian kompetitif adalah sebuah lingkungan yang menumbuhkan kewirausahaan. Di sini pula manusia dituntut untuk selalu sigap dan jeli atas sebuah peluang. Sebab, berbagai hal muncul secara tiba-tiba, berbagai konsep baru yang radikal, kejutan dan berbagai gejolak, yang bagi politik dan ekonomi, butuh waktu bertahun-tahun untuk beradaptasi. Dan kita berada di dalamnya, yang sebenarnya berdiri pada periode yang dibangun di atas dasar yang telah disiapkan.</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"> </span></font></p>
<p><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Lantas kenapa harus menunggu Godot? Perbesarlah visual diri kita mengenai puzzle yang acak dan belum tentu arahnya. Sebab, tulis Naisbitt, jika kita terus menunggu Godot, pandangan kita mengenai matriks sejarah akan memudar. Perlahan, pola pikir kita akan berorientasi pada masa lalu, namun tanpa pelajaran sejarah. Dan, masa depan tertanam di masa kini.[]</span></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/nhudaeffendi.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/nhudaeffendi.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nhudaeffendi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nhudaeffendi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nhudaeffendi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nhudaeffendi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nhudaeffendi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nhudaeffendi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nhudaeffendi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nhudaeffendi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nhudaeffendi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nhudaeffendi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nhudaeffendi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nhudaeffendi.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nhudaeffendi.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nhudaeffendi.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nhudaeffendi.wordpress.com&amp;blog=2373032&amp;post=20&amp;subd=nhudaeffendi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/26/ubah-pola-pikirmu-jangan-cemaskan-puzzle-yang-belum-lengkap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5b3dfa117fbe431a42f2bc16ed12bc19?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">nhuda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nhudaeffendi.files.wordpress.com/2007/12/buku-naisbit.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">buku-naisbit.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[Jika] Puntadewa Mampir ke London</title>
		<link>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/25/jika-puntadewa-mampir-ke-london/</link>
		<comments>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/25/jika-puntadewa-mampir-ke-london/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Dec 2007 10:40:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nhuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita usaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/25/jika-puntadewa-mampir-ke-london/</guid>
		<description><![CDATA[  Inilah sebuah tradisi yang mengalami modernisasi. Telah berabad pula epos Pandawa Lima ataupun Mahabharata dilesankan. Dan, bukan hal yang aneh jika lakon wayang kulit Kumbokarno gugur dimainkan di London, bahkan di New York. Dimainkan oleh dalang tanpa keris, pula blangkon. Lirih pula Puntadewa melantunkan when I grow older I will be there at your [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nhudaeffendi.wordpress.com&amp;blog=2373032&amp;post=18&amp;subd=nhudaeffendi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Calibri','sans-serif';"><a href="http://nhudaeffendi.files.wordpress.com/2007/12/pak-gio-dan-wayangnya2copy.jpg" title="pak-gio-dan-wayangnya2copy.jpg"><img align="left" src="http://nhudaeffendi.files.wordpress.com/2007/12/pak-gio-dan-wayangnya2copy.thumbnail.jpg?w=468" alt="pak-gio-dan-wayangnya2copy.jpg" /></a> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Calibri','sans-serif';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Calibri','sans-serif';"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Calibri','sans-serif';"></p>
<p style="margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Inilah sebuah tradisi yang mengalami modernisasi. Telah berabad pula epos Pandawa Lima ataupun Mahabharata dilesankan. Dan, bukan hal yang aneh jika lakon wayang kulit Kumbokarno gugur dimainkan di London, bahkan di New York. Dimainkan oleh dalang tanpa keris, pula blangkon. Lirih pula Puntadewa melantunkan <i>when I grow older I will be there at your side to remind you how I still love you</i>. Sebuah lagu milik Queen yang legendaris itu.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Tak bisa dipungkiri, wayang adalah tradisi yang sangat intim dalam sejarah kebudayaan bangsa ini, khususnya Jawa. Mungkin kebanyakan orang kurang tahu bahwa kesuksesan wayang untuk tetap eksis sampai sekarang bukan hanya dari pelakon wayang itu sendiri (dalang), melainkan  juga dari si pembuat wayang. </span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Sagio, salah satunya. Ia merintis usahanya berbekal dua lembar kulit sapi dan pengetahuan dari ayahnya, Jaya Perwita. Pemuda yang bernama lengkap Sagio (Mh.Poerwitowiguno) inipun mengawali usahanya di Dusun Gendeng RT.04/02 Bangunjiwo  Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Sagio berkreasi dengan wayang sejak umur 11 tahun. Sagio kecil mulai mengukir wayang yang mudah, hingga beranjak dewasa semua wayang telah digubahnya. Wayang Sagio, demikian pasar mengenal hasil karyanya. Hasil produksinya tidak hanya dikenal secara nasional, tapi juga terkenal hingga ke mancanegara seperti Inggris, Perancis dan Amerika.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Dunia wayang ditekuni Sagio di tahun 1963. Mulai tahun 1974 barulah usaha wayangnya mengakar dan mendapatkan izin usaha. Menurutnya, semua usaha itu harus berawal dari senang, “Karena saya senang maka wayang saya dapat bertahan sampai saat ini, seni membuat kerajinan wayang tidak hanya manikmati dari hasilnya kamudian untung, melainkan bagaimana kerajinan itu bisa terus eksis dan bisa dinikmati oleh konsumen,” tambahnya. Uniknya, usaha wayang Sagio hanya berawal dari dua lembar kulit sapi. Itu saja.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Dari segi hasil karyanya, wayang sagio juga dikelompokkan ke dalam beberapa tingkatan berdasarkan lama pengerjaannya. Ada wayang kelas A, wayang kelas B, wayang kelas C, dan juga wayang kelas D. Untuk wayang yang berada di golongan A bisa menghabiskan waktu 2 minggu untuk satu buah wayang dalam sekali pembuatan, kelas B kurang lebih 10 hari, kelas C menghabiskan waktu 3-5 hari untuk satu buah wayang, serta untuk kelas D sendiri satu hari bisa 5 buah wayang yang dihasilkannya. Selain  wayang kulit, usaha wayang yang diberi nama Griya Ukir Kulit Wayang Sagio ini pun menyediakan produk-produk lain, seperti wayang golek, wayang beber, pakaian tari, hiasan dinding dari kulit, kanvas, kaca, kertas lampu sampai kipas dan pembatas buku. “Asal itu wayang ataupun barang-barang yang berasal dari bahan dasar kulit, pokoknya kita bias,” ucap Sagio mantap.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Griya wayang Sagio juga menyajikan wayang dengan berbagai ukuran, dari yang besar sampai termini, yang berukuran 5 cm. Harganya memang dirancang kompetitif. Wayang kulit paling kecil dijual Rp.5000,00 dan untuk jenis gunungan yang paling besar dijual dengan harga sekitar Rp.2.000.000,00. Tentu saja itu berdasarkan tingkat kesulitan dari proses pengukiran, pewarnaan serta  durasi lamanya pembuatan.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Dari sisi pemasaran, kata lelaki kelahiran Bantul 14 Juli 1951 ini, justru peminatnya banyak dari turis asing. Inilah yang membuatnya gusar saat bom meledak di Bali pada tahun 2004 yang lalu. Soalnya, jaringan pemasaran wayang Sagio lebih banyak ke Pulau Dewata tersebut. Boleh dibilang 75 %  dari konsumen wayang sagio adalah turis asing. Tak heran, sekarang banyak ditemukan wayang Indonesia yang bergaya Spanyol, Belanda ataupun Inggris. Meski begitu, “Saya yakin,” tutur Sagio, “wayang itu masih digemari dan masih terus banyak, dan wayang dari Indonesialah yang masih <i>best in the world.</i>” </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Keyakinannya bertambah mengikuti ajang pameran wayang di Jakarta dua bulan lalu yang dihadiri peserta berbagai negara di dunia. “Wayang dari Indonesialah yang masih banyak diminati karena bentuknya yang selalu dinamis,” tambahnya.</span><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Selama kurang lebih 30 tahun mendalami wayang, kemahiran Sagio juga didapatkan dari andil besar pembuat wayang senior di kerajaan Yogyakarta, MB Prayitno. Selama itu pula Wayang Sagio mendapatkan banyak penghargaan, entah itu dari yang paling kecil Lurah, Camat, Bupati, Presiden bahkan penghargaan dari ASEAN ataupun negara-negara lain.</span></p>
<p align="left" style="margin:0;" class="MsoNoSpacing"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Di Griya Ukir Wayang Kulit Sagio, siapapun diberikan kesempatan bagi yang ingin mendalami filosofi dan bagaimana proses pembuatan wayang. Dari proses pembersihan kulit, baik itu kulit kambing, sapi, ataupun kerbau, sampai pada proses pemberian warna pada masing-masing wayang yang telah ditatah sesuai bentuknya.[]</span></p>
<p></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/nhudaeffendi.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/nhudaeffendi.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nhudaeffendi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nhudaeffendi.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nhudaeffendi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nhudaeffendi.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nhudaeffendi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nhudaeffendi.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nhudaeffendi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nhudaeffendi.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nhudaeffendi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nhudaeffendi.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nhudaeffendi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nhudaeffendi.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nhudaeffendi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nhudaeffendi.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nhudaeffendi.wordpress.com&amp;blog=2373032&amp;post=18&amp;subd=nhudaeffendi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/25/jika-puntadewa-mampir-ke-london/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5b3dfa117fbe431a42f2bc16ed12bc19?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">nhuda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nhudaeffendi.files.wordpress.com/2007/12/pak-gio-dan-wayangnya2copy.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pak-gio-dan-wayangnya2copy.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Persembahan Seorang Chef</title>
		<link>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/25/persembahan-seorang-chef/</link>
		<comments>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/25/persembahan-seorang-chef/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Dec 2007 09:47:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nhuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita usaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/25/persembahan-seorang-chef/</guid>
		<description><![CDATA[PURWANJAYA (33) atau lebih akrab dipanggil Wawan, memulai usaha warung makannya kurang lebih empat tahun yang lalu. Waktu itu dia masih bekerja sebagai juru masak di berbagai rumah makan. Di sela kesibukannya, untuk menambah income bagi keluarganya, Wawan membuka warung yang berjualan jus. Meski mendapatkan untung tak lebih dari 22 ribu perhari, Wawan tetap melanjutkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nhudaeffendi.wordpress.com&amp;blog=2373032&amp;post=17&amp;subd=nhudaeffendi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">PURWANJAYA (33) atau lebih akrab dipanggil Wawan, memulai usaha warung makannya kurang lebih empat tahun yang lalu. Waktu itu dia masih bekerja sebagai juru masak di berbagai rumah makan. Di sela kesibukannya, untuk menambah income bagi keluarganya, Wawan membuka warung yang berjualan jus. Meski mendapatkan untung tak lebih dari 22 ribu perhari, Wawan tetap melanjutkan warung jusnya tersebut. </span></font></span><span><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Lantas dengan modal 100 ribu ditambah dengan uang hasil sewa warung tenda yang tak jadi, Wawan mulai menjual lele bakar dan ayam bakar. Tak disangka, respon konsumen terhadap hasil racikan warung Kapuas milik Wawan sangat menggembirakan. Dalam waktu singkat, Wawan mulai menambah menu daftar masakan yang dihidangkan. Mulai dari bakar-bakaran ikan maupun ayam, udang hingga segala macam menu jus buah. Melihat perkembangan yang sangat menggembirakan ini, akhirnya awal tahun 2007, Wawan mulai total mengurus usaha warung Kapuasnya. Untuk mengurus ini, ia pun rela melepas profesi juru masaknya.</span></font></span></p>
<p><span><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Dengan kapasitas tempat duduk yang mampu menampung 150-an orang, Wawan optimis bahwa usaha warung makannya tak bakal goyah. Dengan model pengembang-an ruang yang nyaman, penggunaan trend dapur terbuka yang memungkinkan konsu-men melihat kesibukannya serta servis yang ramah, membuat para tamu tambah betah.</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Bukan hanya itu saja, pengalaman Wawan sebagai seorang juru masak punmemberi kekuatan tersendiri pada rasa masakan yang disajikan. “Yang penting adalah rasa, harga dan tempat,” kata Wawan optimis.</span></font></span></p>
<p><span><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Warung Kapuas miliknya lebih mengoptimalkan taste dan harga yang terjangkau untuk kalangan menengah, khususnya keluarga dan mahasiswa. Setidaknya dari kunjungan konsumen yang rata-rata 30-an keluarga, belum termasuk perorangan, menunjukkan kemampuan Wawan dalam meracik masakan yang rasanya berkesan.</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Terhitung sejak mulai usaha ini dibuka, kira-kira tahun 2003 yang lalu, Kapuas mulai membuka lagi lahan di sebelah barat rumah hingga halaman belakang. Hal ini pun diikuti dengan penambahan jumlah karyawan yang sekarang membengkak menjadi 15 orang. “Kita baru saja men-training tiga orang kemarin,” ujar Wawan meyakinkan.</span></font></span></p>
<p><span><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Dalam satu hari, Wawan menyediakan stok paling kurang I kwintal ikan segar. Mengingat dalam satu hari saja ikan yang dikonsumsi mulai dari Bawal, Mujair atau Gurameh mencapai 30 kilo, sedangkan ayam 20 kilogram.</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Sekarang Wawan cukup lega. Sebab di warungnya sudah ada juru masaknya sendiri, ia hanya bertugas mengontrol ma-sakan yang hendak disajikan. “Apakah sesuai dengan cita rasa Kapuas atau belum,” ucapnya. Sehingga dengan model semacam ini selera dan citarasa Kapuas tetap bertahan.</span></font></span></p>
<p><span><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Pria beristrikan Rosalia Purwaningrum dan telah dikaruiniai anak satu ini betul-betul mulai belajar untuk mem-franchise-kan usaha. “Saya mulai belajar. Bener-bener mulai belajar apa itu franchise,” katanya lugas.</span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Warung makan Kapuas yang berlokasi di jalan Kapt. Haryadi ini mempunyai menu khas ayam dan ikan bakar. Kekhasan rasa inilah yang membuat konsumen selalu datang untuk merasakan lagi kelezatan masakan warung Kapuas. </span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Dengan pendapatan bersih sebesar 15 juta rupiah per bulan, Wawan masih ingin mewujudkan cita-citanya; membuat gubug-gubug di dua petak sawahnya. Lokasinya di sebelah selatan warung Kapuas. “Ini tentu dengan model sajian cepat atau dibikinkan hall,” ungkapnya.</span></font></span></p>
<p><span><font face="Calibri"><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Kozuka Gothic Pro R','sans-serif';">Namun secara sadar ia mengungkapkan, bahwa ini masih lama. Yang jelas, katanya, bagaimana mengokohkan yang sudah ada ini dulu. “Lantas baru berusaha mengembangkan secara lebih baik,” ucap Wawan menambahkan. Dan dalam waktu dekat, ucap Wawan, warung Kapuas akan menyediakan katering bagi pelanggan yang berada di rumah atau perkantoran. Harga yang ditawarkan sama serta layanan antar.[] </span></font></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/nhudaeffendi.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/nhudaeffendi.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nhudaeffendi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nhudaeffendi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nhudaeffendi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nhudaeffendi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nhudaeffendi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nhudaeffendi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nhudaeffendi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nhudaeffendi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nhudaeffendi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nhudaeffendi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nhudaeffendi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nhudaeffendi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nhudaeffendi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nhudaeffendi.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nhudaeffendi.wordpress.com&amp;blog=2373032&amp;post=17&amp;subd=nhudaeffendi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nhudaeffendi.wordpress.com/2007/12/25/persembahan-seorang-chef/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5b3dfa117fbe431a42f2bc16ed12bc19?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">nhuda</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
